Kamu Memang Bukan yang Tercantik

664xauto-saat-hari-menuju-senja-lantunkan-doa-ini-160201v
By dream.co.id

Saat pertama kali melihat wajahmu, engkau memang tampak biasa saja, tak ada yang istimewa darimu. Walaupun wajahmu cantik, tetapi bukan yang tercantik.

Saat engkau mulai tersenyum ke arahku, aku pun tak terlalu menghiraukannya. Walaupun senyummu manis, tetapi bukan yang termanis.

Saat engkau mulai mengajakku berbicara, akupun menanggapinya tanpa peduli apapun. Walaupun suaramu lembut dan halus, namun bukan yang terlembut dan terhalus.

Saat engkau di dekatku, berbicara banyak hal, memang tercium bau parfum ciri khasmu. Walaupun engkau harum mewangi, tetapi bukan yang terharum bagiku.

Saat aku melihat tanganmu mengusap kepala sahabatmu, kulihat jari jemarimu yang begitu lentik. Namun, bukan yang terindah bagiku.

Saat engkau kubuat tertawa, begitu mempesonanya wajah bahagiamu. Namun, itu bukanlah yang terbaik bagiku.

Akan tetapi, semua itu berubah saat kutahu bahwa engkau ternyata seseorang yang berhati lembut, sederhana, taat ibadahnya, sayang dengan keluarganya, dan bisa mengerti banyak hal. Pakaianmu yang menutupi seluruh tubuhmu, dilengkapi dengan kerudungmu yang sederhana menjadikanmu tampil apa adanya. Engkau tampak begitu natural, tak banyak hiasan-hiasan buatan yang terpampang di wajahmu. Menjadikanmu wanita yang bisa menjaga harga dirimu. Menjadikanku paham, jika engkau adalah salah satu wanita yang mengerti perhiasan paling mahal di dunia ini yaitu dirimu sendiri beserta kehormatanmu.

image_2
By qureta.com

Saat kutahu ternyata engkau mengagumiku, akupun mulai membuka mata hati. Walaupun aku berusaha untuk menutup rapat-rapat pintu hati ini, namun tak kusangka, aku bisa luluh lemah selemah-lemahnya. Tak tega rasanya aku sampai menyakitimu atau mengecewakanmu. Kesederhanaan dan kebaikan-kebaikan yang ada di dalam dirimu cukup membuatku menjadi lebih ingin tahu lebih tentangmu. Saat itupun aku juga mulai mengagumimu.

Sejak saat itu, kulihat wajah tercantik, senyum termanis, suara terlembut dan terhalus, bau terharum, indahnya tawa, dan jari paling lentik mulai tersemat di dalam dirimu. Sejak saat itu pun sesuatu yang berbeda pada diriku mulai tampak, tak bosan-bosannya aku memandangimu, tak jemu-jemunya aku melihat senyummu, dan tak henti-hentinya aku ingin melihat pesona tawamu. Saat engkau dengan sengaja memandangiku dengan senyum manismu, aku bahkan tak berani memandangimu juga. Aku hanya mampu tertunduk, tersenyum malu kepada diriku sendiri.

keindahan-senja-berbeda-beda
By nationalgeographic.co.id

Akan tetapi, aku pun sadar bahwa mungkin tak selamanya aku bisa mendapatkan itu semua darimu. Sebab, aku pun memahami bahwa aku bukanlah siapa-siapa, aku masih belum bisa membalas rasa kagummu kepadaku saat ini. Aku menyadari pula jika engkaupun menginginkan agar rasa kagummu kepadaku dapat diakhiri dengan sesuatu yang bahagia untuk memulai lembaran cerita yang baru, sama halnya dengan apa yang kuinginkan. Ingin pula rasanya untuk memegang erat tanganmu, memeluk hangat tubuhmu, mengusap lembut kepalamu, membelai pipi bulatmu, dan mengecup keningmu. Namun tak sepantasnyalah aku berpikiran itu semua, karena engkaupun juga bukan siapa-siapa bagiku, lebih baik segera kupendam sedalam-dalamnya itu semua.

Akhirnya, akupun hanya bisa berdoa agar suatu saat nanti aku bisa membalas rasa kagummu kepadaku dengan sesuatu yang indah. Semoga setiap langkah yang kutempuh dapat diridhoi dan diberi kemudahan oleh-Nya untuk segera membalasmu di waktu yang tepat, di waktu saat aku dan engkau telah siap menghadapi segala hal.

~End

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s