Jika Derajat Istri Lebih Tinggi dari Suaminya

30ketika-suami-istri-tak-lagi-merasa-sekufu
By ummi-online.com

Pada dasarnya seorang istri berkewajiban untuk patuh dan menghormati suaminya. Hal tersebut akan semakin lumrah dan mudah dilakukan apabila kondisi dimana derajat yang dimiliki suami lebih tinggi daripada istrinya. Suami yang memiliki banyak kelebihan lebih cenderung mudah untuk ditaati dan dihormati oleh istrinya. Namun, bagaimana jika segala kelebihan tersebut justru dimiliki oleh sang istri? Ada banyak kemungkinan yang akan terjadi dengan kondisi semacam itu.

Bagaimana perasaan lelaki dimana istrinya memiliki gelar pendidikan yang lebih tinggi, bagaimana rasanya jika istri memiliki gaji yang jauh lebih tinggi, atau bagaimana rasanya jika istri memiliki kedudukan jabatan yang juga jauh lebih tinggi. Mungkin bagi sebagian besar lelaki, hal tersebut akan menjadi sebuah persoalan psikologis yang cukup mengganggu. Apalagi jika sang istri tidak mampu menempatkan statusnya dalam keluarga.

penghasilan-kecil
By atmosferku.com

Kita tentu paham benar bahwa pada era modern saat ini, posisi istri di dalam keluarga tidak lagi hanya sebagai pengasuh dan perawat, namun juga sebagai tulang punggung yang mampu menyaingi posisi suaminya. Dengan kata lain, saat ini sudah sangat wajar jika seorang istri menjadi wanita karier. Bahkan, seringkali posisi-posisi penting di dalam kerja sudah mampu diambil alih oleh para wanita. Menjadikan hal tersebut seolah-olah tidak ada lagi dominansi dari para kaum lelaki.

Tak jarang juga kita temukan seorang istri yang memiliki gelar pendidikan sampai S3 sementara suaminya hanya tamatan diploma ataupun S1. Sehingga dengan kondisi semacam itu, derajat istri terlihat lebih tinggi karena memiliki tingkatan ilmu yang jauh lebih baik. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap prestige yang dimiliki oleh tiap-tiap individu dan mungkin berpengaruh terhadap personality kesehariannya.

Ada pula kondisi dimana sang istri memiliki jabatan yang cukup tinggi dalam sebuah tampuk kepemimpinan, misalnya sebagai manager, sebagai owner, sebagai gubernur, dsb. Padahal suaminya hanyalah seorang staf biasa yang jauh di bawah tingkatannya.

2-pendidikan-yang-mendidik
By puzzleminds.com

Masalah yang mungkin timbul dengan kondisi semacam itu adalah bagaimana cara mengelola agar si suami tetap merasa sebagai suami yaitu sebagai kepala keluarga dan si istri juga merasa sebagai istri seutuhnya yang patuh dengan suaminya. Terkadang si suami akan merasa minder, merasa tertekan, dan kurang bahagia karena posisi tertingginya seolah-olah telah diambil alih oleh sang istri. Begitupun dengan si istri, bisa saja dia akan merasa lebih hebat sehingga cenderung mengatur ini itu tanpa adanya diskusi terlebih dahulu. Apabila kondisi semacam itu tidak disikapi dengan bijak, sudah pasti akan menimbulkan perselisihan yang berujung pada perceraian.

Padahal jika kedua belah pihak saling pengertian, selalu menjaga komunikasi dengan baik, dan selalu terorientasi ke masa depan keluarga dan demi keberkahan hidup, sudah pasti semua kondisi semacam itu tidak akan menjadi suatu perkara apapun. Bersyukurlah para lelaki yang memiliki istri dengan berbagai kelebihannya, berbanggalah karena berhasil mendapatkan dia sebagai pendamping hidupnya.

Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa dalam mencari seorang istri haruslah yang mengerti tentang agamanya. Jika dia paham, sudah pasti dia juga akan paham bagaimana memposisikan dirinya di dalam keluarga, di depan suaminya, agar kehormatan suaminya tetap terjaga walaupun dirinya memiliki derajat yang lebih tinggi. Untuk para lelaki, tidak perlu khawatir jika nanti mendapat seorang wanita yang jauh lebih pintar, jauh lebih berpenghasilan, dan jauh lebih memiliki kekuasaan di luar keluarganya, asalkan dia tahu apa makna dari kata ISLAM.

~End

3 respons untuk ā€˜Jika Derajat Istri Lebih Tinggi dari Suaminyaā€™

  1. Suami saya juga jauh dibawah saya, lulusan smp dg pekerjaan sebagai buruh proyek dan tidak update dg teknologi. Saya selalu berusaha agar suami mau membimbing dan memberikan wejangan2 ke saya. Tetapi setiap kali diajak diskusi, suami hanya menjawab terserah kamu yang lebih paham,saya ikut saja. Seringkali malah kepala saya mau pecah karena saya harus mengambil keputusan atas setiap hal. Bahkan ketika membangun usaha bersama, semua modal dan konsep harus dari saya. Sudah lelah saya berusaha memancing kreatifitas suami supaya lebih bisa menjadi imam keluarga tdk hanya dlm agama tetapi jg dalam berkehidupan sosial/berkeluarga. Apa yg harus saya lakukan? Sementara saya sangat ingin berhenti bekerja sehingga bs fokus pada anak, dan memulai kerja dr rumah (freelance).

    Suka

    1. Sebelumnya maaf kalau baru saya balas ya Bu
      Menurut saya, yang paling penting di sini adalah suami anda tidak mengesampingkan kewajiban2nya kepada anda dan keluarga, masih mau menafkahi dengan baik, dsb. Kemudian bagaimana kondisi spiritual suami anda, apakah dia orang yang paham dg agamanya atau tidak, kalau memang dia orang yang paham, ajaklah untuk selalu berkomunikasi dengan terbuka dan baik bahwa kondisi anda tidaklah selamanya kuat menjadi tulang punggung utama krn memang wanita kodratnya lbh lemah dari pria.
      Yang kedua, ingatlah bahwa memang kita hidup tidak pernah lepas dari ujian, bahkan memang ujian itu datang pasti berasal dari orang2 terdekat kita, bisa suami, anak, mertua, kakak ipar dsb. Oleh krn itu, kesabaran adalah kuncinya Bu.
      Yang terakhir, tetaplah bersyukur atas apa yang Ibu terima dan selalu berdoa yang terbaik bagi keluarga ya Bu. Selalu berpikir positif jangan sekali-kali suasana negatif menguasai hati dan pikiran.
      Maaf kalau saran ini tergolong cukup klise, semoga bisa memberi manfaat.

      Suka

    2. Hi Istri yg merindukan rembulan,
      aku dulu jg punya pacar yg sekolahnya hanya sampai SMP sedangkan aku S1. Memang sulit jg berkomunikasi dng nya krn pengetahuannya di bwh saya. Akhirnya kami putus. Sepertinya suamimu engga percaya diri dan kamu hanya bs menerimanya apa adanya (termasuk ketidak update nya dng teknologi), tanpa harus berusaha membuatnya kreatif. Berfokuslah pd sisi2 positifnya (misalnya dia ramah, romantis) dan yakinlah bhw dia sbnrnya pandai jg kok makanya dia bs kerja meski hanya buruh. Jika memang scr keuangan Anda sdh bs lepaskan pekerjaan yg sekarang krn kan sdh ada usaha bersama (yg modal dan konsepnya dari Anda) lanjutkan sj usaha tsb sambil memulai kerja dari rmh (freelance). Namun klo scr keuangan itu tdk mungkin, apa blh buat Anda jadi perlu terus kerja ikut org meski Anda akan jauh dari anak.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s