Kesalahan Menjadi Kebenaran

By netnote.com

Pernahkah kita menyadari bahwa berbagai macam nilai kebenaran yang sering kita ketahui dan kita lakukan adalah standar yang dibuat oleh manusia? Mungkin tidak semua orang menyadari itu. Standar hidup yang telah dibuat oleh manusia-manusia terdahulu akan menjadi panduan turun-temurun bagi manusia-manusia yang akan datang. Segala bentuk norma-norma yang ada di masyarakat seperti norma sosial dan norma kesusilaan merupakan hasil pemikiran yang dibentuk oleh manusia-manusia terdahulu. Sebenarnya cukup banyak hal positif yang dapat diadopsi dari semua bentuk nilai-nilai kebenaran tersebut.

Saat kita masih kecil tentu orang tua kita mengajarkan kita untuk menghormati orang-orang yang lebih tua, misalnya memberi salam, mencium tangan, bersalaman, dan berbicara dengan sopan. Kemudian pasti kita juga pernah diajari untuk membantu orang-orang yang sedang dalam kesulitan, seperti membantu orang tua mencuci piring, menolong teman membawa barang-barangnya, ataupun membantu kakek-kakek menyebrang jalanan yang padat. Itu semua merupakan bentuk-bentuk kebenaran yang terwujud karena memang telah mengakar secara turun-temurun diwariskan oleh manusia-manusia terdahulu, dan itu adalah sesuatu yang positif.

*dok. pribadi

Namun demikian, segala bentuk nilai-nilai kebenaran tersebut akan menjadi mudah terbentuk apabila si kreator tersebut duduk sebagai penguasa atau setidaknya sebagai komunitas yang mendominasi diantara yang lain. Logikanya, semakin banyak manusia yang setuju akan suatu nilai tentunya nilai tersebut akan semakin diakui. Nilai-nilai tersebut akan menjadi prematur apabila si penguasa atau si komunitas manusia dominan tersebut mulai membenarkan sesuatu yang sebenarnya salah.  Contoh yang paling simpel di sekitar kita misalnya budaya membuang sampah sembarangan, menyepelekan waktu yang dijanjikan, mencampuri privasi orang lain, dan bahkan korupsi.

Khusus poin korupsi, sepertinya hal tersebut sudah sangat mengakar di salah satu sisi norma dalam masyarakat, walaupun banyak sebagian besar yang sangat menentang. Jika hal tersebut dibiarkan selamanya, bukan tidak mungkin suatu saat korupsi tersebut akan menjadi sebuah nilai kebenaran, disebabkan si penguasa dan si komunitas manusia dominan tersebut selalu memaklumi tindakan yang tidak terpuji semacam korupsi tersebut. Sungguh sangat ironi melihat suatu hal yang buruk dari sisi kemanusian justru menjadi hal yang dimaklumi. Bayangkan jika tidak hanya satu nilai negatif saja yang dimaklumi, bagaimana jika ratusan nilai negatif tersebut mulai dimaklumi oleh seluruh lapisan masyarakat. Tentunya tatanan norma lambat laun akan bergeser dikarenakan tendensi nilai kebenarannya telah berubah.

Walaupun secara teoritis hal tersebut dapat saja terjadi entah kapan, kita sebagai manusia sepertinya tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Tentu kita ingat bagaimana alam ini diciptakan, Tuhan menciptakan sesuatu pasti berpasang-pasangan begitupun dengan pemikiran manusia. Pastinya ada semacam penyeimbang dari suatu hal yang dirasa terlalu dominan. Apabila terdapat suatu komunitas manusia dominan memiliki nilai-nilainya sendiri, tentu akan ada sebagian yang lain memiliki nila-nilainya yang kontradiktif. Oleh sebab itulah mengapa sejak dahulu ada pendapat yang menyatakan suatu hal tersebut salah, namun bagi kelompok manusia yang lain justru merasa sesuatu yang benar.

Manusia memang diberi kelebihan dari akal pikirannya, sungguh mengerikan jika seandainya nilai-nilai negatif yang kita sepakati saat ini tiba-tiba berubah menjadi nilai-nilai positif di masa depan. Bagaimana jika membunuh, mencuri, menindas, melukai menjadi sesuatu yang dibenarkan di masa mendatang di tengah-tengah manusia modern, maka hukum rimba menjadi tatanan tertinggi, apa bedanya manusia dengan hewan?

~End

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s